3.17.2026

Solid Gold | Yen Melemah, USD/JPY Dekati 158, Intervensi Jepang Jadi Sorotan

 

Harga Emas hari ini - Yen Jepang melemah saat dolar AS menguat, mendorong USD/JPY kembali naik dan diperdagangkan di sekitar 159,40 pada sesi Asia Selasa. Meski begitu, kenaikan pasangan ini dinilai bisa terbatas karena pasar menimbang kemungkinan intervensi pemerintah Jepang untuk menahan pelemahan yen.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan volatilitas pasar keuangan sedang meningkat dan pemerintah siap merespons bila diperlukan, termasuk di pasar valuta asing. Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa otoritas dapat bertindak jika pergerakan yen dinilai terlalu cepat atau tidak sejalan dengan fundamental.

Dari sisi kebijakan moneter, Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda menyebut inflasi inti secara bertahap bergerak menuju target 2%. Ia menambahkan BoJ akan mengarahkan kebijakan secara tepat untuk mencapai inflasi yang stabil dan berkelanjutan, meski pasar memperkirakan suku bunga akan dipertahankan di 0,75% pada Kamis dengan opsi pengetatan lanjutan tetap terbuka.

Penguatan dolar AS terjadi seiring memudarnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Kekhawatiran inflasi yang terkait lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah turut mengurangi ruang bagi pelonggaran kebijakan, sehingga mendukung dolar dan menekan mata uang berimbal hasil lebih rendah seperti yen.

Pasar secara luas memperkirakan The Fed menahan suku bunga acuannya pada kisaran 3,50%–3,75% pada pertemuan Rabu, mengacu pada CME FedWatch Tool. Jika suku bunga tetap, hal itu akan menjadi penahanan kedua berturut-turut setelah siklus pelonggaran sebelumnya, sementara fokus pasar tetap pada kombinasi arah kebijakan bank sentral dan potensi langkah otoritas Jepang di pasar valas. - Solid Gold

Sumber : Newsmaker.id

3.16.2026

PT Solid | DXY Bertahan di Atas 100!

 

Harga Emas hari ini - Indeks Dolar AS (DXY) tetap di atas level 100,00 dalam perdagangan Asia Senin 16/3, melemah menjadi sekitar 100,20 setelah menyentuh level tertinggi hampir 10 bulan di 100,54 pada sesi sebelumnya. Penurunan ini terjadi karena permintaan untuk posisi safe-haven mereda.

Pelemahan dolar terjadi setelah laporan bahwa Menteri Energi AS Chris Wright memperkirakan konflik AS-Israel dengan Iran akan berakhir dalam "beberapa minggu ke depan," sebuah skenario pasar yang ditafsirkan berpotensi mengurangi risiko gangguan terhadap aliran energi dan mengurangi tekanan pada harga. Karena keengganan terhadap risiko mereda, dolar AS kehilangan momentum meskipun tetap tinggi pada sesi tersebut.

Aksi harga minyak tetap menjadi pendorong yang bersaing. WTI turun setelah dibuka dengan gap yang lebih tinggi, diperdagangkan di dekat $96,30 per barel pada saat penulisan. Namun, risiko minyak mentah tetap bersifat dua arah di tengah laporan bahwa pasukan AS menargetkan situs militer Iran di Pulau Kharg pada akhir pekan, sebuah pusat penting yang menangani hampir 90% ekspor minyak Iran. Presiden Donald Trump mengatakan infrastruktur minyak tidak terkena serangan, sementara Iran memperingatkan bahwa mereka dapat membalas terhadap fasilitas minyak yang terkait dengan AS di wilayah tersebut.

Fokus geopolitik juga beralih ke Selat Hormuz. Trump meminta negara-negara sekutu termasuk Inggris, Prancis, Tiongkok, dan Jepang untuk membantu mengamankan jalur tersebut, dengan laporan yang menunjukkan potensi pengumuman Gedung Putih dalam beberapa hari mendatang. Secara terpisah, para menteri luar negeri Uni Eropa bertemu di Brussels untuk membahas kemungkinan respons angkatan laut setelah apa yang digambarkan oleh para pejabat sebagai penutupan Selat yang efektif, meskipun pengerahan segera dianggap tidak mungkin.

Pasar sekarang beralih ke keputusan kebijakan Federal Reserve AS yang akan diumumkan pada hari Rabu. Meskipun tidak ada perubahan suku bunga kebijakan yang diharapkan, para pedagang kemungkinan akan mempertimbangkan panduan terbaru untuk sisa tahun ini terhadap implikasi inflasi dari harga energi yang tinggi. Variabel-variabel kunci yang perlu dipantau meliputi kelanjutan kenaikan harga minyak mentah, perkembangan terbaru di Selat Hormuz, dan penekanan The Fed pada risiko inflasi yang didorong oleh energi dibandingkan dengan tren disinflasi yang lebih luas. - PT Solid

Sumber: Newsmaker.id

3.12.2026

Solid Gold Berjangka | Emas Melemah Pasca Data Inflasi AS, Harapan Cut Rate Menipis

 

Harga Emas hari ini - Harga emas melemah pada hari Kamis (12/3) setelah rilis data inflasi bulanan AS membuat prospek pemangkasan suku bunga The Fed terlihat makin kecil, di saat perang di Timur Tengah masih berlarut. Bullion berada di kisaran $5.160-an per ons pada perdagangan awal, setelah turun tipis pada sesi sebelumnya.

Meski inflasi inti AS terpantau relatif terkendali di awal tahun—sebelum konflik pecah—pasar kini lebih fokus pada risiko inflasi ke depan. Lonjakan energi dan ketidakpastian rantai pasok akibat perang membuat kekhawatiran inflasi “forward-looking” meningkat, sehingga peluang The Fed menurunkan biaya pinjaman menjadi lebih sempit. Di Eropa, Uni Eropa juga mengingatkan inflasi kawasan berpotensi melampaui 3% tahun ini.

Konflik AS–Israel vs Iran kini memasuki hari ke-13 dan terus mengganggu produksi serta aktivitas pengilangan minyak di kawasan Timur Tengah. Harga minyak naik untuk hari kedua, karena pasar menilai risiko perang berkepanjangan masih lebih dominan dibanding rilis darurat cadangan minyak terbesar sepanjang sejarah oleh negara-negara maju. Presiden Donald Trump juga mengisyaratkan kemungkinan menggunakan Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS untuk meredakan harga.

Bagi emas, kombinasi suku bunga yang cenderung bertahan tinggi—yang menjadi hambatan bagi aset non-yielding—serta kebutuhan likuiditas portofolio membuat pergerakannya rentan. Dalam fase volatil seperti ini, emas kerap dijadikan “sumber dana” oleh investor untuk menutup kebutuhan di aset lain. Sejak perang pecah, volume kepemilikan emas di ETF tercatat menurun, meski pada Selasa sempat terlihat arus masuk setelah penurunan pekan lalu menjadi yang terbesar dalam lebih dari dua tahun.

Walau demikian, emas masih mencatat kenaikan yang kuat sepanjang tahun ini, ditopang perannya sebagai aset lindung nilai saat gejolak geopolitik meningkat. Namun, pergerakan harga belakangan cenderung berombak dan momentum naik terlihat tertahan sejak perang dimulai pada 28 Februari.

Pada update terakhir, emas spot turun tipis 0,5% di sekitar $5.150,82 per ons. Perak melemah, sementara platinum dan palladium juga bergerak turun. Indeks dolar Bloomberg menguat tipis, menambah tekanan ringan pada logam mulia. - Solid Gold Berjangka

Sumber: Newsmaker.id

3.10.2026

Solid Gold | Pound Menguat Saat Pasar Kurangi Taruhan Pemangkasan BoE

 

Harga Emas hari ini - GBP/USD naik sekitar 0,3% pada Senin dan mendekati 1,3450, setelah sempat melemah ke area 1,3280 pada sesi awal. Pergerakan harga kemudian berosilasi di sekitar 1,3400, menandakan pasar mulai memasuki fase konsolidasi setelah rebound.

Penguatan pound terjadi ketika pasar memangkas agresif ekspektasi pemangkasan suku bunga Bank of England (BoE) menyusul krisis Selat Hormuz. Probabilitas pemangkasan pada bulan ini turun menjadi di bawah 20% dari lebih dari 80% sebelum konflik, sementara kontrak berjangka suku bunga Inggris kini memproyeksikan kurang dari satu kali penurunan 25 bps untuk sisa 2026. Lonjakan biaya energi dinilai berisiko menjaga tekanan inflasi tetap tinggi, sehingga ruang pelonggaran kebijakan dinilai makin sempit.

Dari sisi global, agenda utama pekan ini adalah rilis CPI AS Februari pada Rabu, dengan konsensus memperkirakan inflasi headline 0,3% (MoM) dan 2,4% (YoY). Data ini menjadi penentu arah dolar dan selera risiko, yang pada akhirnya memengaruhi dinamika GBP/USD.

Di Inggris, Kamis akan diisi rilis produksi industri Januari dan pidato Gubernur BoE Andrew Bailey. Jumat menyusul data PDB Inggris Januari yang diperkirakan 0,2% (MoM) dan produksi manufaktur 0,2% (MoM). Dari AS, pasar juga menunggu inflasi PCE inti Januari (diperkirakan 0,4% MoM dan 3% YoY), PDB kuartal IV pendahuluan 1,4% (tahunan), serta indeks sentimen konsumen Michigan (Maret) di 55.

Ke depan, pasar akan memantau dua jalur utama: perkembangan harga energi yang membentuk ekspektasi inflasi dan suku bunga BoE, serta data inflasi AS yang menentukan arah dolar. Kombinasi keduanya akan menjadi pendorong utama volatilitas GBP/USD dalam sisa pekan ini. - Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

3.09.2026

PT Solid | Hang Seng Anjlok, Shock Inflasi Energi Picu Risk-off Asia

 

Harga Emas hari ini - Saham Hong Kong dibuka melemah tajam pada Senin(9/3) pagi. Indeks Hang Seng anjlok 705 poin atau 2,7% ke 25.058, membalikkan penguatan sesi sebelumnya setelah futures indeks AS melemah dan bursa regional ikut terkoreksi di tengah guncangan inflasi akibat lonjakan harga minyak.

Lonjakan biaya energi memicu kekhawatiran biaya hidup yang lebih tinggi dan meningkatkan risiko kebijakan moneter tetap ketat—bahkan membuka ruang kenaikan suku bunga di sejumlah negara. Sentimen risk-off pun menguat karena pasar menilai shock energi dapat menahan pemulihan ekonomi dan memperpanjang tekanan inflasi.

Dari sisi geopolitik, Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi setelah wafatnya ayahnya. Langkah ini dinilai menegaskan kelompok garis keras tetap dominan, dan disebut memicu respons keras dari Presiden Trump yang menilai perkembangan tersebut “tidak dapat diterima,” mempertebal ketidakpastian di kawasan.

Di Tiongkok, ekuitas turun lebih dari 1%, memutus reli dua hari, seiring deflasi produsen yang berlanjut kembali menyorot lemahnya permintaan. Pelaku pasar relatif mengabaikan data CPI yang naik ke level tertinggi tiga tahun 1,3%, yang dinilai lebih dipicu faktor musiman seperti perjalanan dan belanja Tahun Baru Imlek. Di Hong Kong, pelemahan bersifat luas, dipimpin MMG (-7,5%), Swire Properties (-7,1%), Sun Hung Kai Properties (-6,7%), Cathay Pacific (-6,6%), dan AIA Group (-5,7%). - PT Solid

Sumber: Newsmaker.id

3.06.2026

PT Solid Gold Berjangka | Indeks Dolar Mampu Bertahan di 99!

 

Harga Emas hari ini - Indeks dolar bertahan di sekitar 99 pada Jumat dan berada di jalur menguat lebih dari 1% sepanjang pekan ini, ditopang arus safe haven di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak yang kembali mengguncang pasar keuangan. Permintaan terhadap aset defensif meningkat ketika ketidakpastian geopolitik memperlebar volatilitas lintas aset.

Ofensif AS–Israel terhadap Iran memasuki hari ketujuh, sementara Teheran meluncurkan gelombang baru serangan rudal dan drone di kawasan Teluk. Presiden AS Donald Trump juga menyatakan ingin memiliki peran dalam proses pemilihan pemimpin Iran berikutnya, seraya menilai Mojtaba Khamenei, putra mendiang pemimpin tertinggi, sebagai pilihan yang kecil kemungkinannya.

Kenaikan harga minyak memperkuat kekhawatiran kebangkitan inflasi global, yang pada gilirannya mendorong pasar menilai Federal Reserve akan lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dan bertahan lebih lama cenderung mendukung dolar melalui selisih imbal hasil dan preferensi likuiditas.

Tekanan tersebut paling terasa pada mata uang negara dan kawasan pengimpor minyak, karena kenaikan biaya energi berpotensi memperburuk neraca perdagangan dan menekan prospek pertumbuhan. Dalam kerangka ini, dolar mendapat tambahan dukungan dari penyesuaian ulang posisi investor terhadap risiko stagflasi jangka pendek.

Pasar juga menggeser perkiraan waktu pemangkasan suku bunga The Fed. Ekspektasi pemangkasan berikutnya didorong mundur ke September atau Oktober dari proyeksi sebelumnya pada Juli, sejalan dengan naiknya risiko inflasi berbasis energi dan meningkatnya ketidakpastian dari sisi geopolitik.

Sepanjang pekan ini, penguatan dolar paling menonjol terjadi terhadap euro. Pergerakan tersebut dikaitkan dengan sensitivitas Eropa terhadap energi, mengingat ketergantungan yang tinggi pada pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah, sehingga guncangan harga energi cenderung lebih cepat tercermin pada sentimen dan valuasi mata uang.

Ke depan, pelaku pasar akan memantau arah konflik dan dinamika harga minyak sebagai pemicu utama volatilitas FX, bersamaan dengan perubahan penetapan harga ekspektasi kebijakan The Fed. Kombinasi risk-off, energi, dan imbal hasil berpotensi tetap menjadi faktor dominan dalam pergerakan dolar dalam waktu dekat. - PT Solid Gold Berjangka

Sumber: Newsmaker.id

3.02.2026

PT Solid | Nikkei Jatuh 2,3%: Jepang Tersungkur

 

Harga Emas hari ini - Bursa saham Jepang melemah tajam pada awal pekan, terseret kekhawatiran pasar soal stabilitas di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak setelah serangan AS dan Israel ke Iran. Sentimen risk-off bikin investor mengurangi posisi di saham-saham yang sensitif terhadap ketidakpastian global.

Tekanan paling berat datang dari sektor keuangan dan maskapai, yang langsung kena imbas saat risiko geopolitik naik dan biaya energi diperkirakan makin mahal. Nomura Holdings anjlok 7,3%, sementara Japan Airlines turun 6,2%.

Di sisi lain, saham energi justru jadi pengecualian. Inpex melonjak 12% karena harga minyak yang menguat memberi prospek pendapatan lebih baik bagi perusahaan eksplorasi migas.

Di pasar valuta, USD/JPY menguat ke 156,43 dari 155,90 pada penutupan bursa Tokyo hari Jumat, menandakan demand dolar naik saat investor cari aset yang dianggap lebih aman. Pada saat yang sama, Nikkei tercatat turun 2,3% ke 57.478,55, dengan pasar terus memantau perkembangan Timur Tengah dan pergerakan minyak. - PT Solid

Sumber: Newsmaker.id