Harga Emas hari ini - Perdana Menteri Sanae Takaichi mencetak kemenangan pemilu yang disebut sebagai yang terbesar di era pascaperang Jepan dan efeknya langsung terasa di pasar. Saham Jepang melesat, imbal hasil obligasi naik, sementara yen bergerak liar—tanda investor bersiap menghadapi periode belanja negara yang lebih agresif.
Partai berkuasa Partai Demokrat Liberal meraih hasil yang luar biasa, setelah sempat terseok pada musim panas lalu. Data penghitungan dari NHK menunjukkan koalisi pemerintah mengamankan 352 kursi di DPR (lower house), jauh di atas mayoritas tipis sebelumnya.
Yang paling mencolok: partai Takaichi sendiri mengunci dua pertiga kursi di parlemen dan mengantongi 316 kursi dari total 465. Dengan “super mayoritas” ini, jalur pemerintah untuk meloloskan undang-undang jadi jauh lebih mulus, termasuk isu sensitif seperti amandemen konstitusi yang bisa memicu perdebatan baru soal arah pertahanan dan identitas pasifisme Jepang.
Kemenangan ini juga terasa personal buat Takaichi. Ia sempat mempertaruhkan jabatannya lewat pemilu dadakan, dengan janji mundur jika koalisinya gagal meraih mayoritas. Taruhan itu justru dibayar mahal oleh lawan politik: tujuh bulan setelah partainya sempat kehilangan kontrol di parlemen, kini ia kembali memegang kendali penuh.
Di pasar, “Takaichi trade” langsung hidup lagi: indeks Nikkei 225 sempat melonjak hingga 5,7%, sementara yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke sekitar 2,275%. Investor menilai mandat yang kuat membuka peluang stimulus fiskal lebih besar—bagus untuk saham, tapi biasanya menekan obligasi karena kekhawatiran pembiayaan dan inflasi.
Isu yang paling dipantau adalah rencana pemotongan pajak konsumsi untuk makanan. Takaichi menyebut skema penangguhan dua tahun tanpa menerbitkan obligasi baru, namun mengakui masih perlu pembahasan lintas partai. Estimasi biaya kebijakan ini tidak kecil—sekitar ¥5 triliun per tahun—dan inilah yang membuat pasar obligasi sempat tegang karena sumber dananya belum benar-benar “clear”.
Sementara itu, yen jadi titik sensitif. Komentar Takaichi yang sempat dianggap “menerima manfaat yen lemah” membuat mata uang itu tertekan, sebelum ia bilang pernyataannya disalahartikan dan menegaskan fokusnya ekonomi yang kuat tanpa terguncang kurs. Pemerintah melalui Menteri Keuangan Satsuki Katayama menyatakan terus memantau pasar, dan pejabat valuta Atsushi Mimura mengaku berjaga dengan sense of urgency—karena pelemahan lebih dalam bisa mendekati level yang dulu pernah memicu intervensi.
Di sisi kebijakan moneter, tantangannya ikut membesar untuk Bank of Japan: yen lemah bisa menambah tekanan inflasi (mendorong kenaikan suku bunga), tapi pengetatan terlalu cepat berisiko mengganggu pemulihan. Bahkan Donald Trump ikut memberi selamat, menambah sorotan global pada kepemimpinan baru Jepang—yang kini terlihat jauh lebih stabil, tapi juga membawa daftar keputusan besar yang bakal diuji pasar sejak awal pekan ini. - PT Solid
Sumber: Newsmaker.id