Harga Emas hari ini - Harga perak (XAG/USD) memantul di sesi Asia pada Selasa, diperdagangkan di sekitar $81-an per troy ons setelah dua sesi sebelumnya jatuh sangat dalam. Rebound ini lebih mirip “napas dulu” setelah aksi jual besar, bukan tanda tren sudah aman.
Tekanan utama datang sejak Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve. Pasar menilai Warsh cenderung lebih “ketat” dan tidak buru-buru melonggarkan kebijakan—ini biasanya bikin aset seperti perak (yang tidak memberi imbal hasil) jadi kurang menarik dibanding dolar/yield.
Aksi jual perak juga diperparah oleh spekulan China yang buru-buru mengurangi posisi. Tapi di sisi lain, pasar juga ngelirik potensi “buy the dip”: kalau pembeli kembali masuk saat harga diskon, perak bisa dapat bantalan.
Sebelumnya, perak sempat melesat ke rekor (disebut $121,66 pada 29 Januari) karena kombinasi: ketidakpastian geopolitik-ekonomi, kekhawatiran pelemahan nilai mata uang, dan isu independensi bank sentral. Namun ketika tensi mereda—termasuk sinyal komunikasi AS–Iran—permintaan safe haven ikut mendingin. Ayatollah Ali Khamenei juga sempat memperingatkan bahwa serangan AS bisa memicu konflik lebih luas, jadi headline geopolitik masih bisa bikin harga loncat kapan saja.
Dari sisi Fed, komentar pejabat juga bernada hati-hati: Federal Reserve Bank of St. Louis melalui Alberto Musalem menyebut pemangkasan lanjutan belum diperlukan dan level kebijakan dinilai cukup netral, sementara Federal Reserve Bank of Atlanta lewat Raphael Bostic menekankan kesabaran dan kebijakan sebaiknya tetap agak ketat. Kombinasi ini bikin perak rebound, tapi pasar tetap “pasang rem” karena arah suku bunga masih jadi faktor kunci. - Solid Gold
Sumber: Newsmaker.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar